Saturday, 24 Feb 2024
  • Selamat Datang di Website Resmi SMA Tahfidz Darul Ulum Pondok Pesantren Banyuanyar

Kajian Bulanan : Membentuk Pribadi Muslim Yang Sehat dan Kreatif Bersama Al-Qur’an

Bagikan laman ini:

SMATDUBA-Pada hari Jum’at (12/11) kemarin kajian bulanan SMA Tahfidz Darul Ulum Kembali digelar. Kajian kali ini mengangkat tema Membentuk Pribadi Muslim Yang Sehat dan Kreatif Bersama Al-Qur’an yang diisi oleh Ustad Abdus Syukur, Lc,. M.Thi. dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin (STIU) Al-Mujtama’ Pamekasan.

Ustad Dus -sapaan akrab beliau- merupakan alumni dari Universitas Al-Azhar Cairo Mesir, sedangkan S2 nya di selesaikan di UIN Sunan Ampel Surabaya. Selain aktif menjadi dosen, beliau juga tercatat sebagai Komisi Fatwa MUI Kabupaten Pamekasan.

Dalam kajian ini, beliau menyampaikan betapa hebatnya Al-Qur’an dan tidak bisa dibandingkan dengan disiplin ilmu yang lain. Selain menjelaskan definisi Al-Qur’an secara terperinci, beliau juga menyampaikan 3 poin penting berkenaan dengan tema kajian kali ini, diantaranya ;

  1. Jika berbicara dari segi kreatifitas Al-Qur’an , maka yang pertama yg harus disadari, bahwa Al-Qur’an itu adalah perkataan/sabda Allah. Jika kita mepunyai sebuah karya, semisal puisi atau prosa yg begitu indah, tapi itu tidak bisa menyamai apalagi melebihi keindahan Alquran, Karena Al-Qur’an adalah perkataan/sabda Allah yang sampai detik ini belum ada yang bisa membuat karya sebanding dengan AlQur’an.
  2. Al-Quran terpercaya dan terjaga, karena proses turunya Al-Aur’an dari Allah melalui malaikat jibri, diteruskan kepada Nabi Muhammad SAW, terus kepada Sahabat, tabiin, dan sampai juga kepada guru-guru kita, yang itu semua terpercaya kejujuranya dan akhirnya sampai pada kita. Inilah yang membuat Al-Quran tetap terjaga keasliannya meski sudah berumur ribuan tahun yang lalu.
  3. Hidup sehat perspektif Al-Qur;an sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an “Makanlah minulah dan jangan berlebih lebihan”. Didalamnya mengandung hidup pola hidup sehat, semiasal buah-buahan yang mengandung banyak vitaminnya, tapi menyebabkan suatu penyakit jika dikonsumsi secara berlebihan. Oleh karena itu, Allah dengan jelas melarang kita berlebih-lebihanan. Sehingga yang dating bukan hal yang baik, tapi malah sebaliknya.

Kajian kali ini ditutup dengan pembahasan “Afala Ta’qilun”. Beliau menyampaikan bahwa Islam sesungguhnya terus menerus mendorong umatnya untuk selalu berfikir dan memikirkan sesuatu dan hal di dalam diri dan di alam semesta ciptaan Tuhan ini. Berkali-kali Al-Qur’an menyebutkan : “Afala Tatafakkarun” (apakah kamu tidak memikirkan), “Afala Ta’qilun”,(apakah kamu tidak menggunakan akalmu), “Wa fi Anfusikum, Afala Tubshirun”, (di dalam dirimu apakah kamu tidak melihat?).

Menarik sekali redaksi yang digunakan untuk menyampaikan perintah berpikir itu. Redaksi “Apakah tidak”, merupakan bentuk kritisisme al-Qur’an yang sangat tajam. Ia sedang menyindir mereka yang tak mau berpikir, merenung dan memperhatikan kehidupan. Dalam ilmu sastra Arab disebut “Istifham Inkari“. Seakan-akan Allah mengatakan “kalian kok tidak berfikir. Ayo berpikir atau pikirkanlah”.

Ayat-ayat di atas kini atau bahkan sudah sangat lama seperti tak lagi memeroleh perhatian yang sungguh-sungguh dari kebanyakan kaum muslimin. Mereka terkesan mengabaikannya. Aktifitas intelektual mereka berhenti berabad-abad. Padahal dari proses berfikir tersebut yang kemudian berbuah sebuah penemuan baru atau suatu hal yang kreatif.

KELUAR